Menggali Ekoteologi: Solusi Spiritual dan Ilmiah Mengurai Konflik Agraria dan Lingkungan Hidup

Dialog interaktif bertajuk "Green Forum" yang diinisiasi oleh DEMA FSH 2025 dalam rangkaian Dies Natalis Fakultas Syari'ah dan Hukum Ke-65 sukses digelar pada Hari Kamis, 23 Oktober 2025 di Gedung Convention Hall Lantai 2 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dengan mengusung tema relevan yaitu "Menerapkan Ekoteologi untuk Mengurai Konflik Agraria dan Lingkungan Hidup," forum ini berhasil menghadirkan sinergi pandangan dari akademisi, aktivis, dan perwakilan dari kementrian agama yang menjadi penggagas konsep ekoteologi.

Rangkaian Kegiatan dimulai dengan dibuka oleh dua orang master of ceremony yaitu Naila Najibah dan Muhammaf Irfan Fadhil yang juga sebagai dua orang mahasiswi dan mahasiswa aktif sekaligus berprestasi Fakultas Syari'ah dan Hukum. Setelahnya dilanjut dengan sambutan dari Bapak Prof Noorhaidi Hasan selaku Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, beliau mengucapkan selamat atas terselenggaranya Dies Natalis FSH Ke-65 sekaligus memberikan banyak harapan untuk Fakultas Syari’ah dan Hukum kedepannya.

Sambutan Kemudian dilanjut oleh Bapak Prof Ali Sodiqin selalu Dekan Fakultas Syari'ah dan Hukum, Beliau juga menyampaikan rasa bangganya atas terselenggaranya Dies Natalis FSH Ke-65, dan juga berpesan untuk selalu dapat konsisten dan istiqomah dalam memberikan kebermanfaatan untuk seluruh elemen maupun civitas akademika Fakultas Syari’ah dan Hukum.

Setelah sambutan dari Pak Rektor dan juga Pak Dekan, Kemudian Sambutan dilanjutkan oleh Saudara Harpan Muhammad selalu ketua pelaksana kegiatan Dies Natalis FSH Ke-65, yang mengucapkan banyak rasa terimakasih kepada seluruh panitia pelaksana kegiatan Dies Natalis, Peserta Kegiatan Green Forum dan Berbagai elemen yang memberikan sumbangsih dalam proses terselenggaranya Kegiatan.

Sambutan Terakhir kemudian dibawakan oleh Saudara Deryan Febriandy selaku ketua DEMA FSH 2025, Deryan juga mengucapkan banyak rasa syukur, bangga dan terimakasih atas terselenggaranya kegiatan Green Forum ini yang termasuk ke dalam rangkaian kegiatan Dies Natalis FSH Ke-65, selain itu ia juga berharap semoga kegiatan serupa dapat berlanjut, terus tumbuh dan mengakar kuat di berbagai selasar-selasar diskusi progresif yang dapat memberikan banyak kebermanfaatan dan juga kemajuan bagi seluruh elemen stakeholder


mahasiswa dan mahasiswi Fakultas Syari'ah dan Hukum. Sebelum beranjak ke acara inti seluruh peserta kegiatan disuguhkan dengan penampilan tari tradisional dari teman-teman Himpunan Mahasiswa Riau UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang mengingatkan kita semua akan pentingnya pelestarian budaya tradisional di tengah benturan-benturan asimilasi modernisasi.

Sesi inti dialog dipandu secara apik oleh Siti Zahra, mahasiswa HTN Angkatan 2022, sebagai moderator. Ia memperkenalkan tiga narasumber utama: Riski Abiyoga dari WALHI DIY, Perwakilan Kanwil Kementerian Agama, dan Bapak Wardhana, Peneliti dari Pusat Studi Energi UGM.

Dalam sesi ini, narasumber Kemenag secara rinci menjelaskan Ekoteologi sebagai kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah, yang dapat meredam keserakahan pemicu konflik. Perwakilan WALHI DIY menyoroti kasus-kasus riil yang berbenturan dengan keadilan ekologis. Sementara Bapak Wardhana melengkapi dengan analisis ilmiah mengenai hubungan eksploitasi energi dan kerusakan alam, memperkuat urgensi pendekatan berbasis spiritual ini. Secara keseluruhan, sesi 60 menit ini menghasilkan kerangka pemahaman bahwa solusi konflik tidak hanya legal, tetapi juga moral dan spiritual.

Peserta diskusi secara aktif menyoroti beberapa isu lingkungan dan agraria yang sangat krusial di Indonesia:

Persoalan CPO Sawit: Peserta menanyakan pandangan narasumber mengenai kelanjutan izin perkebunan dan produksi CPO sawit yang dinilai kian membahayakan lingkungan dan memicu konflik agraria.

Konsesi Tambang untuk Ormas Keagamaan: Pertanyaan tajam dilontarkan terkait kebijakan pemberian konsesi tambang kepada organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan, mempertanyakan relevansi Ekoteologi dalam menghadapi kebijakan yang berpotensi mencederai prinsip konservasi.

Permasalahan Tambang di Kangean: Diskusi juga menyentuh isu lokal spesifik, yaitu permasalahan dan dampak tambang di wilayah Kangean, menuntut jawaban praktis dari narasumber mengenai langkah mitigasi dan penegakan keadilan.

Menanggapi pertanyaan-pertanyaan ini, narasumber memberikan jawaban yang solutif dan argumentatif. Perwakilan WALHI DIY secara tegas menyuarakan perlunya pengawasan ketat terhadap operasional CPO dan menolak kebijakan yang berpotensi mencederai lingkungan.


Sementara pihak Kemenag menekankan bahwa Ekoteologi dapat menjadi landasan bagi ormas keagamaan untuk menerapkan praktik tambang yang paling bertanggung jawab atau bahkan menolaknya demi kelestarian alam. Bapak Wardhana memberikan data yang mendukung perlunya diversifikasi energi untuk mengurangi ketergantungan pada sumber daya yang memicu konflik seperti tambang.

Kesimpulan utama dari forum ini adalah perlunya sinergi kuat antara regulasi pemerintah, nilai- nilai spiritual yang dianut masyarakat, dan penelitian ilmiah, untuk benar-benar mengurai benang kusut konflik agraria dan lingkungan hidup. Green Forum diharapkan menjadi pemicu kesadaran kolektif yang berakar pada Ekoteologi.

Yogyakarta, Kamis, 23 Oktober 2025


Pewarta : Kementrian Riset dan Pengembangan

Komentar